Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} a:link, span.MsoHyperlink {mso-style-priority:99; color:blue; mso-themecolor:hyperlink; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; color:purple; mso-themecolor:followedhyperlink; text-decoration:underline; text-underline:single;} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:.5in; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:.5in; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:.5in; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:.5in; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:595.35pt 841.95pt; margin:85.05pt 85.05pt 85.05pt 113.4pt; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:766197065; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1403115488 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1 {mso-list-id:1792897281; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:399116438 67698703 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:103.5pt; text-indent:-.25in;} @list l1:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:139.5pt; text-indent:-.25in;} @list l2 {mso-list-id:2097744083; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:760884852 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

MAKALAH DISEASE NOTEBOOK

ILMU PENYAKIT TUMBUHAN DASAR

PENYAKIT PADA TANAMAN KOPI

Oleh:

1. Swinda Kristina Sitompul (A34080003)

2. Ni Nengah Putri Adnyani (A34080013)

Dr. Ir. Sri Hendrastuti H, M.Sc

Dr. Ir. Widodo, M.Sc

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kata Coffee berasal dari Inggris dan sudah mulai dipakai sejak tahun 1600an. Di Italia dinamakan Caffe,yang berasal dari bahasa Turki, Kahve yang diambil dari bahasa Arab. Coffee atau Kopi dalam bahasa Indonesia secara luas dikenal sebagai minuman stimulan yang dibuat dari biji kopi. Kopi pertama kali dikonsumsi orang di abad ke-9 di daerah dataran tinggi Ethiopia, setelah itu menyebar ke Mesir dan Yaman lalu pada abad ke 15 menyebar ke Armenia, Persia, Turki dan Afrika Utara. Kopi merupakan tanaman yang berasal dari Afrika dan Asia Selatan, termasuk family Rubiaceae dengan tinggi pohon mencapai 5 meter. Daunnya memiliki panjang sekitar 5 sampai 10 cm dan lebar 5 cm. Bunga kopi yang berwarna putih berbunga bersamaan, buah kopi sendiri berbentuk oval dengan panjang sekitar 1.5 cm, berwarna hijau kemudian kekuningan, lama-kelamaan menjadi hitam bila sudah digongseng. Biasanya buah kopi berisikan 2 buah biji, tetapi sekitar 5 – 10% mempunyai hanya 1 biji saja yang dinamakan “Peaberries”. Biji kopi siap dipetik(panen) pada saat berumur 7 sampai 9 bulan. Ada 2 jenis kopi yang termasuk tumbuhan Coffea yaitu Coffea Canephora yang dikenal dengan nama Coffea Robusta dan Coffea Arabica. Tanaman kopi banyak terdapat di Amerika latin seperti Brazil, Asia Tenggara dan juga di Afrika. Buah kopi biasanya setelah dipetik kemudian diproses lalu dikeringkan, suhu pengeringan saat digongseng sangat tergantung dengan rasa kopi yang dikehendaki karena panas akan menghilangkan aroma dan rasa kopi itu sendiri. Kopi dapat dihidangkan dengan berbagai macam cara dan rasa. Saat ini kopi merupakan bahan eksport yang sangat penting seperti data tahun 2004 yang menunjukan kopi merupakan komoditi eksport utama di 12 negara dan pada tahun 2005 menjadikan kopi sebagai penghasil devisa nomor 7 dari hasil pertanian dunia. Kopi merupakan salah satu dari bahan minuman yang tidak mengandung alkohol dan disenangi oleh banyak orang. Ditinjau dari segi medis kopi sendiri dapat merangsang pernapasan, kegiatan perut dan ginjal yaitu membantu asimilasi dan pencernaan makanan, menurunkan sirkulasi darah di otak, menenangkan perasaan mental yang berkepanjangan yaitu badan yang letih dan melapangkan dada, sebagai obat penolong diare,pencegah muntah sesudah operasi. Dan yang kopi sering dikonsumsi oleh banyak orang karena kopi dapat menghilangkan rasa kantuk saat kita beraktifitas.

Tujuan

Makalah ini dibuat agar pembaca dapat mengetahui ataupun mengenal berbagai jenis penyakit yang terdapat pada tanaman kopi serta pengendaliannya. Selain itu juga untuk mengetahui siklus hidup penyakit tersebut serta gejala – gejala yang diakibatkan dari serangan penyakit tersebut.

PEMBAHASAN

Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, tanaman kopi tidak terlepas dari serangan penyakit. Penyakit yang biasa menyerang tanaman kopi antara lain penyakit karat daun, penyakit jamur upas, penyakit busuk buah, penyakit akar hitam dan akar coklat, penyakit mati ujung dan penyakit bercak hitam pada buah. Namun dalam makalah Disease Notebook ini kami akan membahas tiga jenis penyakit saja. Penyakit karat daun disebabkan oleh Hemileia vastatrix. Cendawan ini banyak menyerang kopi Arabika, terutama menyerang daun-daun muda pada kelembaban yang tinggi. Pada sisi bawah daun terdapat bercak-bercak berwarna kuning muda, kemudian berubah menjadi kuning tua, bercak-bercak ini berbentuk bulatan kecil dengan diameter 0,5 cm dan bercak-bercak yang berdekatan lama-kelamaan akan menyatu dan bentuknya tidak teratur dengan diameter mencapai 5 cm. Pusat bercak-bercak tersebut akan mengering dan berubah warna menjadi coklat, bercak-bercak dapat dilihat pada daun bagian atas, tetapi tepung-tepung yang berwarna oranye hanya dapat dilihat dari bagian bawah daun Daun yang terserang akan gugur, sehingga dapat menyebabkan pohon kopi gundul dan akhirnya mati. Sumber: http://www.coffee.uni-bonn.de/images/disease_coffee-rost.

Siklus hidup dari penyakit karat daun ini sendiri yaitu cendawan ini mempunyai uredospora yang semula bentuknya bulat, tetapi segera memanjang dan bentuknya mirip dengan juring buah jeruk. Setelah masak isinya berwarna jingga, sedangkan dindingnya tetap tidak berwarna. Sistem luar yang cembung mempunyai duri-duri, sedang sisi lainnya tetap halus (hemileios = setengah licin ). Uredospora tersebut berukuran 26-40 x 20-30 µm, sedangkan Teliospora jarang terbentuk. Untuk pertama kalinya spora ini ditemukan di Sri Lanka pada tahun 1881. Di India Selatan,Vishveswara dan Tag Rag pada tahun 1960 menemukan teliospora di dalam uredium kopi Arabika, kopi Libera dan kopi Robusta. Sedangkan di Indonesia spora ini untuk pertama kalinya ditemukan pada tahun 1989 oleh Saidi (1994)tepatnya di Jawa Timur, Teliospora tersebut terdapat pada kopi Arabika maupun kopi Robusta. Teliospora ini dibentuk bercampur dengan uredospora dalam urediosorus. Awalnya spora ini bentuknya bulat, kemudian memanjang dan berbentuk bulat telur dengan ujung yang menonjol, dengan ukuran 18-28 x 14-22 µm. Teliospora berkecambah setempat membentuk promiselium atau basidium, yang seterusnya membentuk basidiospora. Menurut Waller (1982), kadang – kadang teliospora dibentuk pada daun tua dalam lingkungan yang kering. Hemileia vastratrix bersifat sebagai parasit obligat yang hanya dapat hidup atau berkembang jika memarasit jaringan hidup. Makin banyak bercak, daun akan semakin banyak gugur. Bahkan adanya satu bercak saja sudah dapat menyebabkan gugurnya daun sebelum waktunya. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa banyaknya bercak per daun sebanding dengan persentase daun yang sakit pada pohon yang bersangkutan. Menurut Rayner (1961), diantara keduanya terdapat hubungan eksponensial. Kerugian karena Hemileia vastratrix sukar diperhitungkan karena bersifat akumulatif dan berlangsung sampai satu atau dua tahun berikutnya setelah terjadinya serangan. Pengendalian yang dilakukan pada penyakit ini yaitu dengan menanam jenis kopi Arabika dengan varietas tahan, misalnya S 795, S 288 dan S 333. Menjaga kondisi tanaman agar tidak berbuah terlalu lebat karena jika berbuah lebat kemudian terserang penyakit maka kerugian akan sangat dirasakan. Menggunakan fungisida Dithane M 45 dengan konsentrasi 0,2 % atau 2 cc per liter air dengan interval penyemprotan 2 minggu sekali, penyemprotan dilakukan pada awal mulainya hujan lebat dengan memperhatikan cara-cara penyemprotan. Pengendalian preventif dari penyakit ini yaitu dengan Natural GLIO yang mampu menghancurkan inokulum sumber infeksi penyakit tanaman, mencegah sumber infeksi penyakit menyebar kembali dengan kolonisasi tanah oleh Natural GLIO, mampu melindungi perkecambahan biji dan akar-akar tanaman dari sumber infeksi penyakit, aman terhadap lingkungan, manusia dan hewan, selaras dengan keseimbangan alam, mudah dan murah. Natural GLIO bersifat Hiperparasit terhadap pathogen penyakit tanaman, sehingga terjadi persaingan tempat hidup dan nutrisi. Natural GLIO mengeluarkan zat antibiotik yaitu Gliovirin dan Viridin yang akan mematikan pathogen penyebab penyakit tanaman dan Natural GLIO ini akan berkembang terus mengkolonisasi melindungi tanaman dari gangguan pathogen. Fungisida lain yang digunakan adalah Bubur Bordeaux (BB), Copper oxychloride 50, Copper oksida, Benomiel, Mankozeb, Benlate, Cuprovit OB 21, Difolatan 4 F, Dithane M-45 80 WP dan Vitigran Blue(http://net4work.info/multilevelagrokomplek/glio.html)

Penyakit Jamur Upas disebabkan oleh Corticium salmonicolor atau Corticium koleraga. Gejala yang ditimbulkan yaitu pada lapisan daun bagian bawah terdapat suatu tenunan tipis berwarna putih abu-abu, tertutup lapisan perak. Lapisan tersebut juga terdapat pada cabang-cabang batang dan buah muda serta daun-daun muda yang dimulai dari tepi sampai pada tunas muda. Lapisan ini pada mulanya berwarna keputih-putihan, kemudian sedikit demi sedikit menjadi coklat. Daun berkerak coklat sampai hitam dan kemudian mati seluruh cabang atau mengering sebelum daun gugur, terkadang daun tetap tergantung dengan benang putih tipis dan halus.

Sumber : http://www.mamud.com/Docs/Coffee.pdf Siklus hidup penyakit ini umumnya mulai berkembang dari pangkal batang atau sisi bawah cabang. Karena di sini keadaannya lebih lembab daripada di bagian lain. Kemudian patogen membentuk kumpulan hifa yang dilanjutkan dengan pembentukan kerak berwarna merah jambu. Pengendalian yang dilakukan pada penyakit ini yaitu semua cabang dan ranting yang terkena gejala penyakit ini dipotong, kemudian dibakar dan yang menyerang biji-biji dirampas lalu dibenamkan sedalam-dalamnya. Penyakit ini juga dapat dicegah dengan penyemprotan 3-4 kali dengan menggunakan Cupravit 250-500 gram dalam air 100 liter. Penyemprotan biasanya dilakukan sebelum musim penghujan. Bercak Hitam pada buah disebabkan oleh patogen cendawan Cephaleuros coffea. Gejala yang disebabkan mula-mula timbul bercak-bercak hitam pada kulit buah yang belum matang. Bercak-bercak melebar hingga seluruh kulit buah mengering dan berwarna hitam, pada bercak tersebut timbul rambut-rambut halus yang pada ujungnya terdapat butiran-butiran spora berwarna merah.

Sumber : http://agronomis-ester.blogspot.com. Penyakit ini dapat memperlemah tanaman, sehingga mudah terjadi pembentukan buah yang terlalu banyak (overbearing). Tanaman dapat kehabisan cadangan pati dalam akar, ranting-ranting dan akar – akar mati. Menjadi lemahnya tanaman dapat menyebabkan kurangnya hasil panen pada tahun berikutnya, meskipun penyakit itu tidak timbul pada tahun itu. Buah yang terserang timbul bercak berwarna coklat, biasanya pada sisi yang lebih banyak menerima cahaya matahari. Bercak ini membusuk dan dapat sampai ke biji sehingga menurunkan kualitas kopi itu sendiri. Penyakit ini umumnya dijumpai pada pertanaman yang kurang mendapat pemeliharaan. Penyebaran penyakit ini biasanya dibantu oleh keadaan lingkungan yang lembab dan pola tanam yang kurang baik. Penyebaran penyakit ini juga dapat melalui spora yang terbawa angin dan aliran air hujan serta alat-alat pertanian yang sering digunakan. Pengendalian yang dilakukan yaitu pertama adalah bila buah di kebun masih sangat muda dan panennya masih lama, maka tanaman bisa disemprot dengan fungisida, selanjutnya buah-buah yang terserang dipetik dan dibakar. Cara kedua adalah bila buah di kebun sudah cukup tua, maka buah tidak boleh disemprot dengan fungisida, buah tua yang terserang segara dipetik dan direbus untuk diolah secara kering. Akibat bercak hitam pada buah menyebabkan timbulnya penyakit lain yaitu buah rontok. Selain bercak hitam yang menyebabkan penyakit buah rontok, juga disebabkan karena kondisi kebun yang terlalu lembab, gelap atau terlalu panas. Gejala yang ditimbulkannya yaitu banyak buah yang rontok sebelum waktunya. Selain itu, pengendalian juga dapat dilakukan dengan mengatur jumlah naungan pada tanaman kopi. Gambar biji kopi yang sudah masak dan dikeringkan :

Sumber : http://pelangikejora.files.wordpress.com/2009/01/buah-kopi.

LAMPIRAN

Pertanyaan

1. Apakah jenis kopi yang tahan itu tahan terhadap jenis penyakit? Jika tidak apa jenis kopi yang tahan terhadap penyakit-penyakit tersebut?

2. Mengapa pengendalian pada penyakit karat daun Natural Glionya disemprot, sedangkan pengendalian pada penyakit Jamur Upas natural Glio dioleskan?

Jawaban Pertanyaan

1. Iya. Varietas kopi yang tahan dan sering digunakan yaitu : S288 dengan S333.

2. Karena pada penyakit Karat Daun penyebaran penyakit pada daun tidak terlalu cepat sehingga dilakukan penyemprotan untuk pengendaliannya. Selain itu gejala yang ditimbulkan dari satu bercak menyatu dengan bercak yang lain sehingga bercak tersebut akan melebar, oleh sebab itu pengendalian tercepat yaitu dengan cara penyemprotan Natural Glio. Sedangkan pada penyakit Jamur Upas penyebaran gejalanya sangat cepat tetapi jamur tersebut tidak terlalu melebar sehingga pengendalian tercepat dengan cara mengoleskan Natural Glio.

PENUTUP

Kesimpulan

Pada tanaman kopi terdapat beberapa macam penyakit yang menyebabkan produksinya menurun. Penyakit tersebut dapat dikendalikan melalui beberapa cara, tergantung gejala yang ditimbulkannya. Penyakit yang pada umumnya terjadi yaitu karat daun, jamur upas dan bercak hitam buah, itu sangat dominan menyerang tanaman kopi. Dari ketiga penyakit tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam satu inang terdapat beberapa penyakit yang menyerang walaupun patogennya berbeda. Penyakit tersebut tentunya sangat menghambat pertumbuhan dan produksi tanaman kopi tersebut.

Saran Makalah ini kami kerjakan dengan sedemikian rupa dan masih perlu banyak perbaikan. Jika ada kritikan dan saran untuk makalah ini yang bersifat membangun maka akan kami menerimanya dengan tangan terbuka.

DAFTAR PUSTAKA

Prianto, N., Budidaya Kopi (Jember : BPP Jember).

Rayner,R.W. 1961. Germination and penetration studies on coffee rust (Hemiliea vastatrix). Ann. Appl. Biol. 49, 497-505.

Vishveshwara, S. and T.R. Tag Rag.1960. Nuclear status in basidiospores of Hemiliea Vastatrix. Indian Coffee 24,118-119.

Waller,J.M. 1982. Coffee rust: epidemiology and control. Crop Prot.1, 385 – 404.

http://net4work.info/multilevelagrokomplek/glio.html [diakses tanggal 29 April 2010]

http://www.coffee.uni-bonn.de/images/disease_coffee-rost. [diakses tanggal 29 April 2010]

http://www.mamud.com/Docs/Coffee.pdf [diakses tanggal 29 April 2010]

http://agronomis-ester.blogspot.com. [diakses tanggal 29 April 2010]

http://pelangikejora.files.wordpress.com/2009/01/buah-kopi. [diakses tanggal 29 April 2010]

MAKALAH DISEASE NOTEBOOK

ILMU PENYAKIT TUMBUHAN DASAR

PENYAKIT PADA TANAMAN KOPI

Oleh:

1. Swinda Kristina Sitompul (A34080003)

2. Ni Nengah Putri Adnyani (A34080013)

Dr. Ir. Sri Hendrastuti H, M.Sc

Dr. Ir. Widodo, M.Sc

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kata Coffee berasal dari Inggris dan sudah mulai dipakai sejak tahun 1600an. Di Italia dinamakan Caffe,yang berasal dari bahasa Turki, Kahve yang diambil dari bahasa Arab. Coffee atau Kopi dalam bahasa Indonesia secara luas dikenal sebagai minuman stimulan yang dibuat dari biji kopi. Kopi pertama kali dikonsumsi orang di abad ke-9 di daerah dataran tinggi Ethiopia, setelah itu menyebar ke Mesir dan Yaman lalu pada abad ke 15 menyebar ke Armenia, Persia, Turki dan Afrika Utara. Kopi merupakan tanaman yang berasal dari Afrika dan Asia Selatan, termasuk family Rubiaceae dengan tinggi pohon mencapai 5 meter. Daunnya memiliki panjang sekitar 5 sampai 10 cm dan lebar 5 cm. Bunga kopi yang berwarna putih berbunga bersamaan, buah kopi sendiri berbentuk oval dengan panjang sekitar 1.5 cm, berwarna hijau kemudian kekuningan, lama-kelamaan menjadi hitam bila sudah digongseng. Biasanya buah kopi berisikan 2 buah biji, tetapi sekitar 5 – 10% mempunyai hanya 1 biji saja yang dinamakan “Peaberries”. Biji kopi siap dipetik(panen) pada saat berumur 7 sampai 9 bulan. Ada 2 jenis kopi yang termasuk tumbuhan Coffea yaitu Coffea Canephora yang dikenal dengan nama Coffea Robusta dan Coffea Arabica. Tanaman kopi banyak terdapat di Amerika latin seperti Brazil, Asia Tenggara dan juga di Afrika. Buah kopi biasanya setelah dipetik kemudian diproses lalu dikeringkan, suhu pengeringan saat digongseng sangat tergantung dengan rasa kopi yang dikehendaki karena panas akan menghilangkan aroma dan rasa kopi itu sendiri. Kopi dapat dihidangkan dengan berbagai macam cara dan rasa. Saat ini kopi merupakan bahan eksport yang sangat penting seperti data tahun 2004 yang menunjukan kopi merupakan komoditi eksport utama di 12 negara dan pada tahun 2005 menjadikan kopi sebagai penghasil devisa nomor 7 dari hasil pertanian dunia. Kopi merupakan salah satu dari bahan minuman yang tidak mengandung alkohol dan disenangi oleh banyak orang. Ditinjau dari segi medis kopi sendiri dapat merangsang pernapasan, kegiatan perut dan ginjal yaitu membantu asimilasi dan pencernaan makanan, menurunkan sirkulasi darah di otak, menenangkan perasaan mental yang berkepanjangan yaitu badan yang letih dan melapangkan dada, sebagai obat penolong diare,pencegah muntah sesudah operasi. Dan yang kopi sering dikonsumsi oleh banyak orang karena kopi dapat menghilangkan rasa kantuk saat kita beraktifitas.

Tujuan

Makalah ini dibuat agar pembaca dapat mengetahui ataupun mengenal berbagai jenis penyakit yang terdapat pada tanaman kopi serta pengendaliannya. Selain itu juga untuk mengetahui siklus hidup penyakit tersebut serta gejala – gejala yang diakibatkan dari serangan penyakit tersebut.

PEMBAHASAN

Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, tanaman kopi tidak terlepas dari serangan penyakit. Penyakit yang biasa menyerang tanaman kopi antara lain penyakit karat daun, penyakit jamur upas, penyakit busuk buah, penyakit akar hitam dan akar coklat, penyakit mati ujung dan penyakit bercak hitam pada buah. Namun dalam makalah Disease Notebook ini kami akan membahas tiga jenis penyakit saja. Penyakit karat daun disebabkan oleh Hemileia vastatrix. Cendawan ini banyak menyerang kopi Arabika, terutama menyerang daun-daun muda pada kelembaban yang tinggi. Pada sisi bawah daun terdapat bercak-bercak berwarna kuning muda, kemudian berubah menjadi kuning tua, bercak-bercak ini berbentuk bulatan kecil dengan diameter 0,5 cm dan bercak-bercak yang berdekatan lama-kelamaan akan menyatu dan bentuknya tidak teratur dengan diameter mencapai 5 cm. Pusat bercak-bercak tersebut akan mengering dan berubah warna menjadi coklat, bercak-bercak dapat dilihat pada daun bagian atas, tetapi tepung-tepung yang berwarna oranye hanya dapat dilihat dari bagian bawah daun Daun yang terserang akan gugur, sehingga dapat menyebabkan pohon kopi gundul dan akhirnya mati. Sumber: http://www.coffee.uni-bonn.de/images/disease_coffee-rost.

Siklus hidup dari penyakit karat daun ini sendiri yaitu cendawan ini mempunyai uredospora yang semula bentuknya bulat, tetapi segera memanjang dan bentuknya mirip dengan juring buah jeruk. Setelah masak isinya berwarna jingga, sedangkan dindingnya tetap tidak berwarna. Sistem luar yang cembung mempunyai duri-duri, sedang sisi lainnya tetap halus (hemileios = setengah licin ). Uredospora tersebut berukuran 26-40 x 20-30 µm, sedangkan Teliospora jarang terbentuk. Untuk pertama kalinya spora ini ditemukan di Sri Lanka pada tahun 1881. Di India Selatan,Vishveswara dan Tag Rag pada tahun 1960 menemukan teliospora di dalam uredium kopi Arabika, kopi Libera dan kopi Robusta. Sedangkan di Indonesia spora ini untuk pertama kalinya ditemukan pada tahun 1989 oleh Saidi (1994)tepatnya di Jawa Timur, Teliospora tersebut terdapat pada kopi Arabika maupun kopi Robusta. Teliospora ini dibentuk bercampur dengan uredospora dalam urediosorus. Awalnya spora ini bentuknya bulat, kemudian memanjang dan berbentuk bulat telur dengan ujung yang menonjol, dengan ukuran 18-28 x 14-22 µm. Teliospora berkecambah setempat membentuk promiselium atau basidium, yang seterusnya membentuk basidiospora. Menurut Waller (1982), kadang – kadang teliospora dibentuk pada daun tua dalam lingkungan yang kering. Hemileia vastratrix bersifat sebagai parasit obligat yang hanya dapat hidup atau berkembang jika memarasit jaringan hidup. Makin banyak bercak, daun akan semakin banyak gugur. Bahkan adanya satu bercak saja sudah dapat menyebabkan gugurnya daun sebelum waktunya. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa banyaknya bercak per daun sebanding dengan persentase daun yang sakit pada pohon yang bersangkutan. Menurut Rayner (1961), diantara keduanya terdapat hubungan eksponensial. Kerugian karena Hemileia vastratrix sukar diperhitungkan karena bersifat akumulatif dan berlangsung sampai satu atau dua tahun berikutnya setelah terjadinya serangan. Pengendalian yang dilakukan pada penyakit ini yaitu dengan menanam jenis kopi Arabika dengan varietas tahan, misalnya S 795, S 288 dan S 333. Menjaga kondisi tanaman agar tidak berbuah terlalu lebat karena jika berbuah lebat kemudian terserang penyakit maka kerugian akan sangat dirasakan. Menggunakan fungisida Dithane M 45 dengan konsentrasi 0,2 % atau 2 cc per liter air dengan interval penyemprotan 2 minggu sekali, penyemprotan dilakukan pada awal mulainya hujan lebat dengan memperhatikan cara-cara penyemprotan. Pengendalian preventif dari penyakit ini yaitu dengan Natural GLIO yang mampu menghancurkan inokulum sumber infeksi penyakit tanaman, mencegah sumber infeksi penyakit menyebar kembali dengan kolonisasi tanah oleh Natural GLIO, mampu melindungi perkecambahan biji dan akar-akar tanaman dari sumber infeksi penyakit, aman terhadap lingkungan, manusia dan hewan, selaras dengan keseimbangan alam, mudah dan murah. Natural GLIO bersifat Hiperparasit terhadap pathogen penyakit tanaman, sehingga terjadi persaingan tempat hidup dan nutrisi. Natural GLIO mengeluarkan zat antibiotik yaitu Gliovirin dan Viridin yang akan mematikan pathogen penyebab penyakit tanaman dan Natural GLIO ini akan berkembang terus mengkolonisasi melindungi tanaman dari gangguan pathogen. Fungisida lain yang digunakan adalah Bubur Bordeaux (BB), Copper oxychloride 50, Copper oksida, Benomiel, Mankozeb, Benlate, Cuprovit OB 21, Difolatan 4 F, Dithane M-45 80 WP dan Vitigran Blue(http://net4work.info/multilevelagrokomplek/glio.html)

Penyakit Jamur Upas disebabkan oleh Corticium salmonicolor atau Corticium koleraga. Gejala yang ditimbulkan yaitu pada lapisan daun bagian bawah terdapat suatu tenunan tipis berwarna putih abu-abu, tertutup lapisan perak. Lapisan tersebut juga terdapat pada cabang-cabang batang dan buah muda serta daun-daun muda yang dimulai dari tepi sampai pada tunas muda. Lapisan ini pada mulanya berwarna keputih-putihan, kemudian sedikit demi sedikit menjadi coklat. Daun berkerak coklat sampai hitam dan kemudian mati seluruh cabang atau mengering sebelum daun gugur, terkadang daun tetap tergantung dengan benang putih tipis dan halus.

Sumber : http://www.mamud.com/Docs/Coffee.pdf Siklus hidup penyakit ini umumnya mulai berkembang dari pangkal batang atau sisi bawah cabang. Karena di sini keadaannya lebih lembab daripada di bagian lain. Kemudian patogen membentuk kumpulan hifa yang dilanjutkan dengan pembentukan kerak berwarna merah jambu. Pengendalian yang dilakukan pada penyakit ini yaitu semua cabang dan ranting yang terkena gejala penyakit ini dipotong, kemudian dibakar dan yang menyerang biji-biji dirampas lalu dibenamkan sedalam-dalamnya. Penyakit ini juga dapat dicegah dengan penyemprotan 3-4 kali dengan menggunakan Cupravit 250-500 gram dalam air 100 liter. Penyemprotan biasanya dilakukan sebelum musim penghujan. Bercak Hitam pada buah disebabkan oleh patogen cendawan Cephaleuros coffea. Gejala yang disebabkan mula-mula timbul bercak-bercak hitam pada kulit buah yang belum matang. Bercak-bercak melebar hingga seluruh kulit buah mengering dan berwarna hitam, pada bercak tersebut timbul rambut-rambut halus yang pada ujungnya terdapat butiran-butiran spora berwarna merah.

Sumber : http://agronomis-ester.blogspot.com. Penyakit ini dapat memperlemah tanaman, sehingga mudah terjadi pembentukan buah yang terlalu banyak (overbearing). Tanaman dapat kehabisan cadangan pati dalam akar, ranting-ranting dan akar – akar mati. Menjadi lemahnya tanaman dapat menyebabkan kurangnya hasil panen pada tahun berikutnya, meskipun penyakit itu tidak timbul pada tahun itu. Buah yang terserang timbul bercak berwarna coklat, biasanya pada sisi yang lebih banyak menerima cahaya matahari. Bercak ini membusuk dan dapat sampai ke biji sehingga menurunkan kualitas kopi itu sendiri. Penyakit ini umumnya dijumpai pada pertanaman yang kurang mendapat pemeliharaan. Penyebaran penyakit ini biasanya dibantu oleh keadaan lingkungan yang lembab dan pola tanam yang kurang baik. Penyebaran penyakit ini juga dapat melalui spora yang terbawa angin dan aliran air hujan serta alat-alat pertanian yang sering digunakan. Pengendalian yang dilakukan yaitu pertama adalah bila buah di kebun masih sangat muda dan panennya masih lama, maka tanaman bisa disemprot dengan fungisida, selanjutnya buah-buah yang terserang dipetik dan dibakar. Cara kedua adalah bila buah di kebun sudah cukup tua, maka buah tidak boleh disemprot dengan fungisida, buah tua yang terserang segara dipetik dan direbus untuk diolah secara kering. Akibat bercak hitam pada buah menyebabkan timbulnya penyakit lain yaitu buah rontok. Selain bercak hitam yang menyebabkan penyakit buah rontok, juga disebabkan karena kondisi kebun yang terlalu lembab, gelap atau terlalu panas. Gejala yang ditimbulkannya yaitu banyak buah yang rontok sebelum waktunya. Selain itu, pengendalian juga dapat dilakukan dengan mengatur jumlah naungan pada tanaman kopi. Gambar biji kopi yang sudah masak dan dikeringkan :

Sumber : http://pelangikejora.files.wordpress.com/2009/01/buah-kopi.

LAMPIRAN

Pertanyaan

1. Apakah jenis kopi yang tahan itu tahan terhadap jenis penyakit? Jika tidak apa jenis kopi yang tahan terhadap penyakit-penyakit tersebut?

2. Mengapa pengendalian pada penyakit karat daun Natural Glionya disemprot, sedangkan pengendalian pada penyakit Jamur Upas natural Glio dioleskan?

Jawaban Pertanyaan

1. Iya. Varietas kopi yang tahan dan sering digunakan yaitu : S288 dengan S333.

2. Karena pada penyakit Karat Daun penyebaran penyakit pada daun tidak terlalu cepat sehingga dilakukan penyemprotan untuk pengendaliannya. Selain itu gejala yang ditimbulkan dari satu bercak menyatu dengan bercak yang lain sehingga bercak tersebut akan melebar, oleh sebab itu pengendalian tercepat yaitu dengan cara penyemprotan Natural Glio. Sedangkan pada penyakit Jamur Upas penyebaran gejalanya sangat cepat tetapi jamur tersebut tidak terlalu melebar sehingga pengendalian tercepat dengan cara mengoleskan Natural Glio.

PENUTUP

Kesimpulan

Pada tanaman kopi terdapat beberapa macam penyakit yang menyebabkan produksinya menurun. Penyakit tersebut dapat dikendalikan melalui beberapa cara, tergantung gejala yang ditimbulkannya. Penyakit yang pada umumnya terjadi yaitu karat daun, jamur upas dan bercak hitam buah, itu sangat dominan menyerang tanaman kopi. Dari ketiga penyakit tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam satu inang terdapat beberapa penyakit yang menyerang walaupun patogennya berbeda. Penyakit tersebut tentunya sangat menghambat pertumbuhan dan produksi tanaman kopi tersebut.

Saran Makalah ini kami kerjakan dengan sedemikian rupa dan masih perlu banyak perbaikan. Jika ada kritikan dan saran untuk makalah ini yang bersifat membangun maka akan kami menerimanya dengan tangan terbuka.

DAFTAR PUSTAKA

Prianto, N., Budidaya Kopi (Jember : BPP Jember).

Rayner,R.W. 1961. Germination and penetration studies on coffee rust (Hemiliea vastatrix). Ann. Appl. Biol. 49, 497-505.

Vishveshwara, S. and T.R. Tag Rag.1960. Nuclear status in basidiospores of Hemiliea Vastatrix. Indian Coffee 24,118-119.

Waller,J.M. 1982. Coffee rust: epidemiology and control. Crop Prot.1, 385 – 404.

http://net4work.info/multilevelagrokomplek/glio.html [diakses tanggal 29 April 2010]

http://www.coffee.uni-bonn.de/images/disease_coffee-rost. [diakses tanggal 29 April 2010]

http://www.mamud.com/Docs/Coffee.pdf [diakses tanggal 29 April 2010]

http://agronomis-ester.blogspot.com. [diakses tanggal 29 April 2010]

http://pelangikejora.files.wordpress.com/2009/01/buah-kopi. [diakses tanggal 29 April 2010]

Bagaimana Cara Mengendalikan Wereng Coklat dan Tungro

Padi banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia. Dalam budi-dayanya sering dijumpai ber-bagai kendala, seperti musim, serangan hama dan penyakit, kebijakan peme-rintah sampai harga jual yang rendah. Adanya serangan hama dan penyakit seperti wereng coklat maupun  tungro masih menjadi kendala utama bagi petani. Petani seakan sudah kehilangan akal untuk mengatasi dua serangan ini.  Kerugian yang ditimbulkan tidak sedikit dan mengancam produksi beras nasi-onal.  Akibat serangan ini, produksi bisa turun dari serangan rendah (15%) sampai serangan berat (79%). Penu-runan produksi akibat serangan ini dapat dikurangi bila kita mengenali terlebih dahulu karateristik hama dan penyakitnya sehingga kita dapat mencari cara yang efektif dalam me-ngendalikannya.  Berbagai upaya telah dilakukan dalam mengendalikan kedua musuh ini

Gejala Serangan

Pada padi yang terserang wereng coklat terlihat helaian daun padi yang paling tua berangsur-angsur berwarna kuning.   Bila hal itu dibiarkan akan ditandai dengan adanya massa berupa jamur jelaga. Serangan wereng coklat dengan tingkat populasi yang tinggi akan menyebabkan warna daun dan batang tanaman menjadi kuning kemudian berubah menjadi coklat dan akhirnya seluruh tanaman menjadi kering seperti terbakar. Berkembangnya serangan wereng coklat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya (1) wereng coklat adalah serangga yang mampu berkembang biak dengan cepat dimana dalam masa reproduksinya, satu buah induk betina wereng coklat mampu menghasilkan 100-600 butir telur. Dengan daya sebar yang cepat dan ganas serta kemampuan menemukan sumber makanan, membuat serangan wereng coklat ini semakin meluas. (2) penanaman varietas padi yang peka/tidak tahan terhadap wereng coklat, kemudian (3)   adanya pola tanam yang tidak teratur dan (4) penggunaan pestisida yang kurang tepat sehingga tidak efektif dalam membasmi wereng coklat tersebut.

Berbeda dengan serangan hama wereng coklat, serangan penyakit tungro ini disebabkan oleh virus. Penyebaran serangan penyakit ini sangat cepat karena dibantu oleh vektor  (serangga penular) yaitu we-reng hijau (Nephotettix virescens dan N. nigropictus).  Adapun gejala / tanda kerusakan yang ditimbulkan dari penyakit ini adalah : Gejala serangan awal di lahan biasanya khas dan menyebar secara acak. Daun  padi yang terserang virus tungro mula-mula berwarna kuning oranye dimulai dari ujung-ujung, kemudian lama-kelamaan berkembang ke bagian bawah dan tampak bintik-bintik karat berwarna hitam.  Bila keadaan ini dibiarkan jumlah anakan padi akan mengalami pengurangan, tanaman menjadi kerdil, malai yang terbentuk lebih pendek dari malai normal selain itu banyak malai yang tidak berisi (hampa) sehingga tidak bisa menghasilkan.  Seperti halnya wereng coklat, penyebaran penyakit ini juga sangat cepat. Cepatnya perkem-bangan penyakit tungro disebabkan antara lain oleh : (1) cepatnya perkembangan serangga penular  (wereng hijau),(2) masih dilakukannya penanaman bibit padi yang tidak diketahui asal usul dan kesehatannya, terutama dari daerah endemis tungro, (3) adanya penanaman varietas tidak  tahan tungro yang didu-kung pola tanam tidak teratur, dan (4) para petani masih enggan melakukan pemusnahan (eradikasi) pada tanaman yang terkena serangan tungro akibatnya tanam padi sehat yang lain ikut terkena penyakit ini.

Penyebaran dan Siklus Hidup

Pengendalian hama wereng coklat dan penyakit tungro ini akan lebih efektif bila kita mengetahui bagaimana gejala, sistem penularan dan siklus hidup serangga penyebar penyakit itu.  Penularan penyakit tung-ro pada padi bersumber dari singgang (sisa tanaman padi setelah dipanen) dan rumput-rumput yang berada di sekitar tanaman padi.  Virus tungro ini dibawa oleh wereng hijau dengan menghisap tanaman sakit dan me-nyebarkannya melalui jaringan tanaman padi. Penularan penyakit oleh wereng hijau ini berlangsung secara non persisten, yaitu segera terjadi dalam waktu 2 jam setelah menghisap tanaman, dan menimbulkan tanda serangan setelah  6 – 9 hari kemudian.  Selain wereng hijau dewasa, nimfa (larva) dari serangga ini pun dapat menularkan virus tungro.  Virus ini tidak dapat ditularkan melalui : telur wereng hijau, biji padi, atau gesekan antara tanaman sehat dengan tanaman sakit.  Berdasarkan hal itu, maka bila kita ingin mengendalikan penyakit akibat virus ini, maka yang perlu kita kendalikan adalah faktor penyebarnya yaitu wereng hijau, tanaman yang sakit dan singgang-singgang sebagai sumber penyakit.

Dalam siklus hidupnya wereng coklat terbagi kedalam 3 fase yaitu telur, nimfa dan serangga dewasa.  Wereng coklat betina meletakkan telur-telurnya di dalam pelepah dan tulang daun.  Setelah 7-9 hari kemudian telur-telur tersebut menetas dan menjadi nimfa.  Pada fase nimfa inilah serangga wereng coklat berbahaya karena pada fase ini nimfa-nimfa bersaing untuk men-dapatkan sumber makanan agar bisa tumbuh menjadi serangga dewasa. Dalam menunjang perkembangannya menjadi dewasa itulah nimfa ini kemudian merusak tanaman dengan cara memakan dan menghisap cairan yang ada dalam tanaman padi.  Nimfa ini sendiri terbagi ke dalam 5 instar sesuai warnanya.  Instar  pertama ber-warna putih dan selanjutnya berubah menjadi warna coklat.  Pada umur 13-15 hari, nimfa sudah berkembang menjadi serangga dewasa. Wereng cok-lat mempunyai keistimewaan yaitu mampu membentuk biotipe baru. Pembentukan biotipe ini terjadi bila terjadi pergantian varietas padi yang tahan wereng.  Penggunaan perstisida yang kurang benar akan menimbulkan biotipe baru yang menyebabkan wereng tersebut semakin kebal ter-hadap insektisida yang diberikan.

halaman [ 1 ] [ 2 ]
Langkah Pengendalian

Pengendalian wereng coklat dapat dilakukan dengan mencegah penyebaran dan perkembangbiakan hama tersebut.  Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama ini adalah ;

Pertama yaitu melakukan pemantauan secara rutin dan terjadwal yang dilakukan dengan cara mengamati areal tanaman padi dalam interval waktu tertentu (misalnya seminggu sekali), sejak awal persemaian, penanaman sampai panen.  Pemantauan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepadatan populasi wereng coklat di tiap lokasi sehingga dapat dijadikan pedoman apakah perlu dilakukan tindakan pengendalian atau tidak.  Semakin tinggi kepadatan populasi wereng coklat, semakin cepat kita harus melakukan tindakan pengendalian.  Adapun pedoman untuk menetapkan gejala serangan wereng dengan menggunakan 3 kunci pendugaan.  Yaitu tipe A, B dan C. Pendugaan tipe A ini terjadi pada saat persemaian.  Kerusakan dianggap berat bila pada saat umur  30 hari terdapat 50 ekor betina makrop per 25 kali ayunan jaring.  Pada tipe B, fase ini terjadi saat padi berumur 20 – 30 HST.  Tingkat serangan dianggap merugikan bila ditemukan 2 – 5 ekor betina dalam satu rumpun.  Tipe C yaitu pada saat padi berumur 20 – 30 HST dan 50 – 60 HST.  Kerusakan dianggap berat bila ditemukan 2 – 5 ekor betina berakhip dalam 1 rumpun padi.  Pemantauan ini sebaiknya dilakukan  bersamasama dalam satu kelompok tani dan hasilnya dibahas untuk menentukan langkah pengendaliannya.
Wereng Coklat yang Menyerang pada Tanaman padi. Inzet : Bentuk Morfologis Wereng coklat

Kedua adalah memusnahkan singgang (sisa tanaman) yang terserang virus kerdil rumput dan kerdil hampa dengan cara mengolah tanah sesegera mungkin setelah tanaman padi dipanen.  Dengan kita membiarkan lahan tersebut, maka kemungkinann timbulnya serangan virus akan lebih besar saat kita memulai penanaman kembali.

Ketiga adalah menanam padi varietas unggul tahan hama. Penanaman varietas tahan hama terbukti mampu dan efektif mengurangi serangan wereng coklat.  Penggunaan bibit padi yang merupakan  keturunan dari benih asli/bersertifikat akan membuat tanaman menjadi lebih peka/rentan terhadap serangan hama, sehingga disarankan untuk selalu menggunakan benih F-1-nya.  Saat ini ada sekitar 17 varietas yang tergolong tahan wereng diantaranya : Cisadane, IR-50, Krueng Aceh, Sadang, Cisokan, Cisang-garung, IR-64, Dodokan, IR-66, Way Seputih, Walanae, Membramo, Cilo-asri, Digul, Maros, Cirata dan Way Opo Buru.  Namun , perlu diketahui pula bahwa diantara verietas tersebut, ada beberapa varietas diantaranya yang rentan terhadap biotipe wereng tertentu diantaranya : Cisadane, Krueng Aceh, Sadang dan Cisokan, yang hampir semuanya meskipun tahan wereng biotipe B2, namun agak rentan terhadap B1 dan rentan terhadap biotipe B3.

Keempat yaitu melakukan pemusnahan selektif terhadap tanaman padi yang terserang ringan.  Artinya memilih tanaman padi yang terserang dengan cara mengambilnya untuk kemudian dibuang/dibakar di tempat lain.  Bila terjadi serangan berat, maka perlu dilakukan pemusnahan (eradikasi) total.

Kelima yaitu melakukan penyemprotan dengan insktisida anjuran seperti Winder 25WP  bila populasiwereng coklat telah mencapai batas-batas : populasi wereng mencapai lebih dari 10 ekor per rumpun saat padi berumur kurang dari 40 HST dan populasi wereng mencapai lebih dari 40 ekor per rumpun saat tanaman padi berumur lebih dari 40 HST.

Keenam yaitu ada saat melakukan penyemprotan sebaiknya dimulai dengan membuka (“membiak”) antara barisan tanaman, kemudian menyemprot tanaman dengan mengarahkan semprotan ke bagian batang bawah.  Hal ini dilakukan karena biasanya wereng coklat berada di bagian batang bawah.

Untuk pengendalian penyakit tungro dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

Pertama adalah mengatur pola tanam pada areal padi dengan melakukan pergiliran tanamn bukan padi untuk memutus siklus hidup wereng hijau dan meniadakan sumber penyakitnya.

Kedua adalah melakukan pengolahan tanah sesegera mungkin setelah pemanenan.  Hal ini dimaksudkan untuk memusnahkan singgang tanaman padi sebagai inang vektor.

Ketiga adalah menanam varietas tahan penyakit tungo.  Saat ini ada beberapa varietas padi yang tahan terhadap serangan tungro diantaranya : IR-50, IR-64, Citanduy, Dodokan, IR –66, IR-70, Barumun, kelara, memberamo, IR-36, IR-42, Semeru, Ciliwung , Kr. Aceh, Sadang, Cisokan, Bengawan , Citarum dan terakhir adalah serayu.   Pengendalian akan lebih efektif bila dilakukan pergiliran varietas setiap menanam padi.

Keempat adalah mengupayakan penanaman secara serempak dalam satu hamparan.

Kelima yaitu melakukan pemantauan secara terjadwal sejak awal dimulai di singang-singgang sehabis panen, dilanjutkan pada persemaian dan tanaman muda (saat tanaman kritis umur 2-6 minggu setelah tanam), khususnya di daerah endermis tungro.  Hasil pengamatan dibahas dalam kelompok  guna menentukan gerakan pengendalian.

Keenam yaitu pada saat persemaian benih disebar paling cepat 5 hari setelah pengolahan tanah, mengingat virus tungro yang ada di singgang dan tubuh wereng hijau telah hilang setelah periode waktu tersebut.  Kemudian pada daerah kronis tungro sebelum melakukan penyebaran benih sebaiknya tanah diberi insktisida bahan aktif carbofuran sebanyak 4 kg/500 m2 dengan cara dibenamkan bersamaan dengan pengolahan tanah. Bibit sebaiknya tidak menggunakan dari daerah yang terdapat serangan tungro.  Bibit yang terinfeksi tungro harus dicabut dan kemudian dimusnahkan dengan cara dibenamkan ke dalam tanah. Kemudian melakukan penyemprotan  dengan insektisida anjuran bila populasi vektor (wereng hijau) mencapai 20 ekor per 25 ayunan jaring.

Ketujuh yaitu pengendalian saat tanaman muda. Pengendalian dilakukan dengan mengatur saat tanam sedemikian rupa agar saat populasi wereng hijau tinggi, tanaman padi sudah berumur lebih 60 HST.  Selain itu dilakukan eradikasi selektif secara kesinambungan dan melakukan penyemprotan insktisida anjuran bila populasi wereng hijau minimal 3 ekor per 25 ayunan jaring.

(Sumber : Jurnal /Leaflet IP2TP-Wonocolo).

halaman [ 1 ] [ 2 ]